ORANGUTAN TRIP (JURNAL PERJALANAN TANJUNG PUTING)

 

Tanjung Puting? Orangutan?

Apa hubungannnya nama tanjung puting sama orangutan? walapun yang satu adalah nama tempat dan yang satu lagi adalah nama hewan, tapi jelas ini ada hubungan nya. Oke untuk prolog saya kasih tau dulu hubungan antara Tanjung Puting sama Orangutan.

Taman Nasional (TN) Tanjung Puting terletak di semenanjung Kalimantan Tengah. Di sini terdapat konservasi orangutan terbesar di dunia dengan populasi diperkirakan 30.000 sampai 40.000 orangutan yang tersebar di taman nasional dan juga di luar taman nasional ini. Selain itu TN Tanjung Puting juga merupakan cagar biosfer yang ditunjuk pada tahun 1977 dengan area inti TN Tanjung Puting seluas 415.040 ha yang ditetapkan pada tahun 1982.

Dengan status TN dan cagar biosfer TN Tanjung Puting ini dapat terjaga kelestariannya dan merupakan daya tarik salah satu wisata di Indonesia. Ini berbeda dengan konservasi orangutan yang terdapat di bagian Kalimantan lainnya di mana kita melihat orangutan di habitat buatan manusia.

Yapp bener banget Tanjung Puting adalah sebuah Taman Nasional sedangkan Orangutan adalah jenis kera besar (Ape) yang tinggal dan di konservasi dalam Tanjung Puting, jadi udah jelas kan apa hubungan nya antara kedua nya.

IMG_3476

Pada tanggal 6-8 Februari 2016 silam saya memutuskan untuk melihat salah satu ke eksotikan dan ke seksian pulau Borneo atau yang seanjutnya saya sebut Kalimantan (biar lebih Indonesia banget). Di Kalimantan banyak banget tempat-tempat yang kece, seksi, menantang, dan hot, salah satunya adalah Taman Nasional Tanjung Puting. Awalnya saya berpikir ngapain juga saya kesana, cuma mau liat orangutan dikasih makan, tapi menurut temen-temen saya yang pernah kesana yang bisa diliat dari TN Tanjung Puting bukan cuma orangutannya aja melainkan ada harta karun yang terpendam dan yang bener-bener kece buat diliat.

Setelah saya cek di internet ga lama saya langsung deal sama Trip Organizer nya untuk ikut open trip ke Tanjung Puting. Pendaftarannya ga ribet ko cuma tanya-tanya hari keberangkatan, transfer uang, dan deal kita langsung masuk list nya. Karena ini Open Trip dan kuota keberangkatan ada 6 orang jadi 5 orang lain nya orang-orang yang belum saya kenal, lumayan kan sekalian nambah temen baru.

Hari Pertama

Haru Sabtu saya naik pesawat yang berangkat jam 09.15 dari Soekarno Hatta dengan pesawat Trigana air. Menempuh perjalanan sekitar 1 jam 10 menit, pada jam 10.30 mendaratlah saya dengan elegan ke bandara Iskandar, Pangkalanbun. Bandara ini tergolong kecil karena ini adalah bandara Angkatan Udara jadi yang bisa masuk kesini cuma 2 maskapai komersil, Trigana air dan Kalstar Aviation. Setelah sampai di Bandara Pangkalnbun saya langsung di jemput oleh guide yang bernama mas Zulham. Sempat liat sekeliling ternyata banyak banget bule yang mendatangi bandara ini dan ternyata semua bule ini bertujuan untuk ke TN Tanjung Puting, mungkin ini yang dibilang temen saya sebagai harta karun.

Ga lama setelah anggota kami terkumpul, sebanyak 6 orang, kami langsung diberangkatkan menuju Pelabuhan Kumai dengan menggunakan Taksi bandara. Waktu yang ditempuh sekitar 15 menit dari bandara Pangkalanbun. Pelabuhan Kumai ga sebesar yang saya bayangkan, ukuran pelabuhan termasuk kecil tapi banyak banget kapal-kapal yang parkir disana, mulai dari kapal mewah, sedang, sederhana, sampai kapal dibawah sederhana (kapal seadanya). Sambil menunggu mas Zulham mengurus tiket dan administrasi kami ber-6 dibawa langsung ke kapal dan orang disini menyebutnya dengan “klotok”. Penamaan klotok didasari karena bunyinya yang bising menyerupai suara “tok..tok…tok” -penjelasan dari guide kami-. Klotok yang kami tumpangi termasuk berukuran sedang, ada 2 lantai dimana lantai bawah digunakan untuk ruang pengemudi, dapur, kamar mandi, dan lantai atas digunakan untuk kegiatan kami ber-6 (makan, tidur, serta santai-santai).

 

IMG_3234

Pelabuhan Kumai

Dari penilaian saya mas Zulham termasuk guide yang sangat berpengalaman untuk perjalanan ke Tanjung puting, mas Zulham juga menguasai Bahasa inggris, Indonesia, Banjar, dan Dayak, dan ternyata doi ini dulunya pernah menjadi ranger di Taman Nasional Tanjung Puting. Sekitar jam 11.00 kami diberangkatkan dari pelabuhan kumai menuju camp pertama yaitu camp Tanjung harapan. Perjalanan memakan waktu cukup lama yaitu sekitar 2 jam. Dalam perjalanan kami benar-benar disuguhkan pemandangan-pemandangan yang diluar dugaan, bisa melihat burung-burung yang entah apa namanya, buaya, monyet liar sampai bekantan.

Setelah sampai di camp tanjung harapan, sekitar jam 14.00 mas Zulham mnyuruh kami bersiap-siap untuk tracking ke dalam hutan menuju feeding station. Track yang di lalui cukup ringan dengan jalan datar dan tanah gambut. Setelah sampai di feeding station kami disuguhkan pemandangan yang WOOOW,, sekitar 4 orangutan yang sedang asik menikmati buah yang sudah disiapkan para ranger untuk makan siang mereka. Kalo beruntung kita bisa sangat dekat dengan orangutan dan foto bareng mereka yang sedang keluar jalur untuk mencari makan.

 

IMG_4391

 Feeding Station Camp tanjung Harapan

Jam 16.00 kami berjalan kaki kembali menuju klotok. Agenda selanjutnya adalah hunting foto dipinggir sungai sekonyer. Yang kami temui adalah banyak sekumpulan bekantan, monyet liar, bahkan kalo beruntung bisa bertemu buaya yang sedang nyebrang sungai atau sekedar sedang beristirahat di pinggir sungai. Setelah hunting selesai kami beritirahat di klotok sambil menikmati makan malam yang menunya luar biasa nikmat. Kegiatan selanjutnya ini yang saya tunggu-tunggu yaitu tracking malam hari menyusuri hutan di camp tanjung harapan. Karena ini malam hari kami di temani juga oleh ranger disana yang sangat berpengalaman dan hafal jalan. Di perjalanan malam banyak sekali yang dijelaskan oleh ranger yang saya lupa namanya.hehehe… Mulai dari hewan nocturnal yang biasa sering keluar, tanaman-tanaman obat, jamur yang bisa menyala dalam gelap, sampai tarantula, kalajengking dan kawanannya. Tracikng malam berlangsung sekitar 1 jam, sayangnya kami tidak begitu beruntung, yang kami temui hanyalah jamur yang bisa menyala dalam gelap, kalajengking, dan beberapa serangga raksasa.

Hari Kedua

Hari kedua kami dibangunkan oleh kicauan burung-burung yang sangat jarang terdengar di kota Jakarta. Udara pagi hari disana sangat sejuk, jadi sayang kalo ga dinikmatin. Setelah sarapan dan mandi, kami langsung dibawa menuju camp kedua yaitu Camp Pondok Tanggui. Di camp ini sama seperti camp sebelumnya, kami dwajibkan untuk tracking ke dalam hutan selama 30 menit menuju feeding station. Setelah sampai di feeding station kami bertemu orangutan bernama Albert. Albert bukan pejantan dominan di camp ini tapi melihat badannya yang besar seperti ga percaya ternyata ada lagi yang lebih besar dari Albert. Info dari ranger disana pejantan dominan sagat jarang terlihat pada saat pemberian makan, karena si dominan ini selalu berkeliling untuk mengecek daerah kekuasaannya. Pejantan dominan yang ada di camp pondok tanggui bernama Gundul. Jadi kalo kalian bertemu si dominan saat berkunjung ke camp maka disitulah kalian bisa disebut sangat beruntung.

IMG_3446

Feeding Station Camp Pondok Tanggui

Setelah puas melihat proses feeding di pondok tanggui kami langsung bergegas kembali ke klotok untuk menuju ke camp pamungkas, yaitu Camp Leakey. Butuh 1,5 jam dari pondok tanggui untuk mencapai ke camp leakey. Camp leakey ini menjadi camp terlaris bagi para pengunjung karena disana terdapat pusat informasi mengenai orangutan dan hewan-hewan liar lainnya, selain itu pejantan dominan disini yang bernama si Tom juga sangat terkenal dibanding dengan pejantan dominan di camp-camp sebelumnya.

Sesampainya di camp leaky kami langsung tracking menuju pos dan information center. Di information center ini benar-benar full of education, karena banyak sekali info-info yang saya ga tau sama sekali mengenai konservasi, orangutan, bekantan, dan hewan-hewan liar lainnya. Saking meng edukasinya saya baru sadar ternyata yang mendirikan konservasi orangutan ini adalah seorang WNA (Jerman) yang bernama Prof. Birute Galdikas. Prof  Birute udah menaruh perhatian ke orangutan sejak tahun 1975, kebayag kan lama nya gimana mendedikasikan hidup untuk Orangutan. Di information center ini juga saya bisa tau sebenernya musuh utama orangutan yang menyebabkan mereka bisa sampai mendapatkan status “hewan langka” itu siapa. Kalo pada penasaran siapa, mungkin bisa langsung diagendakan mengunjungi TN Tanjung Puting karena kalo saya jawab sekarang pasti pada ga percaya.hehehehe.

Di camp leakey ini terasa agak sedikit berbeda dengan camp sebelumnya, karena dari pos saja kami sudah bisa melihat banyak sekali monyet-monyet liar yang menyambut dan ada sekawanan babi hutan yang sedang mencari makan. Mas Zulham membawa kami ke tempat feeding station dengan track yang berbeda dengan pengunjung lain alasannya agar tidak terlalu ramai di perjalanan. Track yang kami lewati sangat sepi dan agak menyeramkan, mas Zulham juga sangat banyak menerangkan mengenai hutan ini, dari pengalaman nya yang pernah tersesat sampai masuk ke sarang buaya. Di hutan ini juga kami menemui pohon beracun yang apabila tersentuh kulit akan menimbulkan infeksi seperti kulit terbakar. Serangga-serangga besar, babi hutan, serta monyet liar juga kami jumpai di track ini.

Saat perjalanan menuju feeding station tiba-tiba kami tersentak ketika melihat orangutan jantan yang sedang bengong di pinggir jalan. Ternyata nama dari orangutan itu adalah Gaja Mada. Orangutan ternyata sangat mirip dengan manusia, mereka memiliki karakter dan ciri khas yang berbeda-beda dan ciri khas tersebut dimilikinya tergantung pada saat kecil dengan siapa mereka dibesarkan. Si Gaja Mada ternyata memiliki sifat kagetan atau latah, kalo kita melakukan gerakan yang tiba-tiba badan dia langsung tersentak seperti kaget, dan itu lumayan menjadikan hiburan bagi kami J.

IMG_4466

Gaja Mada

Feeding station di camp leakey ternyata seperti yang diceritakan mas Zulham, disini ramai sekali pengunjung karena memang memiliki daya Tarik yang luar biasa. Dari mulai pemberian makan sampai selesai kami hampir tidak bisa mendekati garis pembatas karena saking banyaknya pengunjung yang berdesak-desakan. Tapi di Camp Leaky ini juga kami bisa melihat dengan jelas hewan yang bernama Gibbon. Saya juga baru tau dari salah satu temen trip yang berasal dari Jerman. Dia obsesi banget sama yang namanya Gibbon, katanya sepanjang dia traveling ke Indonesia dia Cuma pernah denger suaranya aja tanpa melihat langsung wujud si Gibbon. Setelah pemberian makan selesai, kami langsung kembali menuju klotok dan beristirahat sejenak. Kegiatan selanjutnya seperti biasa, memburu foto-foto hewan yang menjadi maskot Dufan itu. Selain memburu foto bekantan mas Zulham juga mencarikan tempat dimana kami bisa bermalam.

IMG_3357

Sekawanan Bekantan

Malam terakhir kami di Tanjung puting disuguhkan dengan puluhan oh bahkan ratusan oh mungkin ribuan kunang-kunang yang mempertontonkan kelap-kelip cahayanya didepan kami. Saking dekatnya kunang-kunang itu bisa kami pegang dan menempel di kulit. Sambil menikmati kunang-kunang suguhan makan malam yang disajikan juga menambah keindahan malam yang tidak pernah ditemui kalo kita sudah kembali ke Ibu Kota Tercinta.

Hari Ketiga

Hari ketiga diawali dengan kicauan burung-burung dan matahari pagi. Ritual saya adalah naik keatas dek klotok, menyeduh kopi hangat, dan duduk santai selama 1 jam untuk mensyukuri apa yang telah didapat dan bisa dinikmati di Taman Nasional Tanjung Puting ini. Setelah sarapan dan bersih-bersih badan, kami kembali menuju pelabuhan kumai, perjalanan nya agak santai karena memang kami ingin menikmati hari terakhir dengan menelusuri keesotikan sungai sekonyer ini.

IMG_3524IMG_4429

Keindahan Sungai Sekonyer

Sesampainya kembali di pelabuhan kumai, kami langsung dibawa oleh mas Zulham ke tempat oleh-oleh yang ada di pangkalanbun, tempat ini relatif kecil dan menjual semua yang berhubungan dengan Tanjung Puting. Agenda selanjutnya kami dibawa ke kota Pangkalanbun dengan mobil dan menuju ke rumah adat Dayak, sekali lagi mas Zulham mengeluarkan pengetahuannya tentang sejarah dan seluk beluk mengenai suku Dayak di Kalimantan. Penjelasannya sangat detil dan rapih, saya juga sampai tercengang begitu tau adat Dayak dari dulu sampai sekarang itu seperti apa, mulai dari upacara-upacara mereka, upacara kematian, upacara persembahan, dan adat-adat yang ada di Kalimantan. Setelah selesai kami diberikan cinderamata berupa gelang alam yang terbuat dari serat tumbuhan. Dan spesialnya ini adalah buatan tangan dari mas Zulham sendiri, uniknya dari gelang ini adalah umur pakai nya yang bisa berusia 2 tahun. Setelah selesai kami dikembalikan lagi ke bandara karena mengejar pesawat dengan keberangkatan jam 13.15.

Di bandara inilah perjalanan kami selama 3 hari 2 malam di tanjung puting selesai dan saya merasa sangat puas dengan perjalanan ini, karena perjalanan ini bukan hanya untuk refreshing semata tapi ternyata saya mendapatkan banyak pengetahuan mengenai ilmu konservasi, alam, karakteristik orangutan, hewan-hewan liar yang ada di Kalimantan, keindahan sungai Sekonyer, sampai pengetahuan tentang adat Dayak dari Kalimantan. Yap mungkin itu yang disebut temen saya dengan “harta karun” nya.  Mungkin juga itu yang disebut dengan Ekowisata, yang tidak hanya mengedepankan keindahan alam tetapi juga memberikan pendidikan kepada pengunjung tentang arti lingkungan dan konservasi.

Demikian pengalaman saya berekowisata ke Taman Nasional Tanjung Puting. Semoga tulisan ini bisa menginspirasi kalian untuk menyadari betapa kayanya Indonesia dan berharganya lingkungan untuk kita semua.

 

Salam Lestari J

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s